Saya
Purnomo, 37 tahun seorang karyawan di perusahaan swasta, tinggal di Kota
Tangerang, Provinsi Banten. Istilah tumor, kanker, dan pembengkakan kelenjar
getah bening sering saya dengar. Bahkan, untuk istilah terakhir, beberapa
kenalan dan kerabat saya pernah melakukan operasi karena menderita penyakit
tersebut. Dari pengalaman kenalan dan kerabat itu, saya dengar alasan mereka
melakukan operasi pembengkakan kelenjar getah bening karena rasa sakit yang
tertahankan.
Sekitar
bulan Februari 2014 yang lalu, di punggung atas sebelah kanan saya mulai tumbuh
benjolan kecil. Saya tidak khawatir karena tidak menimbulkan efek apapun,
apalagi nyeri seperti yang pernah dialami teman-teman saya. Bahkan, benjolan
itu kadang jadi mainan dan dipegang-pegang saat bercanda dengan putra saya yang
masih balita. Aktivitas saya pun sama sekali tidak terganggu. Hingga sekitar
bulan September 2014, benjolan itu telah mencapai ukuran sedikit lebih kecil
dari telur ayam. Saya pun masih tidak merasakan keluhan apapun. Mulai bulan
September 2014 itu juga, dengan alasan untuk menurunkan berat badan, saya rutin
mengkonsumsi Teh Hijau
Istimewa Cap Pucuk pagi dan malam hari. Pada bulan Desember
2014, saya ikut turnamen bulu tangkis di lingkungan kelurahan. Setelah selesai
turnamen saya merasakan benjolan itu sakit luar biasa, saking sakitnya saya
kesulitan untuk tidur. Apalagi terkena guncangan saat naik sepeda motor ketika
berangkat dan pulang kerja, rasa sakit itu semakin menjadi. Saya merasakan
benjolan itu seakan mendesak keluar dan mau meletus.
Saya
belum bisa menyimpulkan apakah rasa sakit itu dipicu karena tenaga saya yang
terporsir akibat pertandingan bulu tangkis, atau efek dari rutinnya saya
mengkonsumsi Teh Hijau Istimewa Cap Pucuk yang memang mengandung antioksidan
tinggi dan antikanker. Meskipun merasa sakit dan khawatir, saya belum berani
memeriksakan diri ke dokter, karena sejak kecil saya tidak berani berobat ke
dokter, mungkin karena pernah trauma yang tanpa saya sadari. Terlepas dari itu
semua, karena rasa sakit yang tak tertahankan bercampur rasa khawatir, saya
membeli herbal SHAD ZEDACA dan SHAD NIGELLA PLUS yang disarankan oleh kenalan saya.
Saya pun mengkonsumsinya
tiga kali sehari dengan dosis tiap kali minum masing-masing dua kapsul.
Sejak
mengkonsumsi SHAD ZEDACA dan SHAD NIGELLA PLUS sekitar seminggu, rasa sakit itu
seakan mencapai puncaknya. Benjolan itu terasa panas dan memerah seakan mau
pecah. Padahal, di saat yang sama saya harus mengikuti acara kantor yang
mengharuskan saya menginap selama tiga hari. Karena merasa bertanggung jawab
atas kelancaran acara kantor, saya pun tetap berangkat. Untuk mengantisipasi
benjolan itu pecah, saya meminta bantuan istri untuk memasang perban.
Kekhawatiran
itu akhirnya terjadi, karena pada malam pertama menginap di tempat
berlangsungnya acara, benjolan itu pecah. Untungnya acara itu masih di dalam
kota Jakarta, sehingga saya memutuskan pulang ke rumah. Sampai di rumah, istri
saya membuka perban dan memijat secara perlahan dengan air hangat. Dari benjolan
itu keluar darah kental yang sangat banyak. Setelah dibersihkan dan dikompres
dengan antiseptik, istri saya kembali menutup benjolan itu dengan perban.
Aktivitas itu sampai tiga malam dilakukan istri saya, hanya perbedaannya pada
malam kedua, cairan yang keluar berupa darah yang sudah agak encer bercampur
nanah. Sedangkan pada malam ketiga, yang keluar 'sesuatu' yang mirip agar-agar
seukuran kepala jarum pentul. Sejak keluarnya 'sesuatu' yang mirip agar-agar
itu, rasa sakit sudah jauh berkurang.
Saya
semakin rutin mengkonsumsi SHAD ZEDACA dan SHAD NIGELLA PLUS dengan dosis
pengobatan. Hingga seminggu setelahnya, benjolan itu sudah kempes sama sekali.
Rasa nyeri pun sudah hilang. Saya kini dapat beraktivitas dengan nyaman kembali
sambil menunggu luka bekas benjolan itu menutup. Untuk mempercepat penyembuhan
dan mengantisipasi muncul benjolan baru, saya tetap mengkonsumi SHAD ZEDACA dan SHAD NIGELLA PLUS dengan dosis pemeliharaan, yakni dua kali sehari
masing-masing satu kapsul. (Harmonis Santara)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar